Pada waktu kita masih di sekolah atau kuliah, seringkali kita mendapatkan tugas “kliping”; di mana kita ditugaskan untuk mencari gambar-gambar lalu ditempel, diberi judul kemudian dijilid menjadi 1 jurnal. Misalnya saja kliping 10 jenis olahraga, maka kita harus mencari minimal 10 buah gambar untuk ditempel di sebuah media.

Pada waktu itu gambar-gambar tersebut harus kita cari dan gunting dari majalah, koran, buku mewarnai, dan masih sumber media print lainnya. Namun semenjak teknologi sudah semakin canggih, kita hanya perlu “googling” dengan memasukkan keyword yang sesuai, pilih gambar, download, & print. 

Seringkali ketika kita sudah menemukan satu foto yang sesuai, tidak jarang kita temukan bahwa foto tersebut sudah diberi watermark. Alhasil gambar tersebut tidak dapat dipakai untuk kliping/jurnal tersebut. Apalagi untuk pekerjaan yang lebih profesional seperti desain untuk iklan atau untuk dimuat di media massa, gambar dengan watermark tersebut tidak seharusnya digunakan tanpa membeli yang namanya Usage License atau ijin penggunaan.

Gambar yang dilindungi dengan watermark inilah yang sering kali kita kenal dengan nama stock photo, yaitu sebuah koleksi gambar yang dishoot atau dihasilkan terlebih dahulu tanpa menunggu permintaan pengguna dan kemudian “di-stock” k e dalam sebuah marketplace yang dikenal dengan Stock Photo Agency atau Library.

Stock photo tersebut harus kita beli lisensi atau ijin penggunaannya untuk dapat kita gunakan dalam bentuk sebuah karya dengan tujuan tertentu (komersil maupun non-komersil). Jika tidak, kita bisa berhadapan dengan tuntutan hukum seperti plagiarisme atau pemanfaatan karya intelektual secara ilegal dari pemilik copyright gambar tersebut.

Oleh karena itu kita harus memahami lisensi dan bagaimana mendapatkan ijin yang sesuai untuk kebutuhan karya kita dalam memanfaatkan stock photo tersebut. Berikut 3 hal mendasar yang penting untuk kamu ketahui.

 

1. Royalty-free bukan berarti “free”

Royalty Free Stock Photo Collage Indonesia
shutterstock/ Yuriy Maksymiv

Karena batas-batasannya yang lebih fleksibel dan harga yang lebih efisien, Image dengan lisensi Royalty-Free menjadi jenis stock photo yang paling banyak digunakan saat ini.

Royalty-free adalah ijin penggunaan hak cipta kekayaan intelektual, biasanya dalam bentuk gambar dan / atau video, di mana pengguna hanya perlu membayar 1 (satu) kali saja untuk mendapatkan ijin penggunaan di beberapa media, berkali-kali dan tanpa ada batasan waktu (perpetual).

Oleh karena itu, kata “free” pada gambar Royalty-Free ,bukan berarti gambar tersebut dapat digunakan tanpa membayar apapun. Lisensi Royalty-Free lebih tepatnya membebaskan user dari keharusan membayar Royalty yang seharusnya dibebankan kepada pengguna setiap kali gambar itu digunakan dengan batasan-batasan waktu atau periode (misal: hanya untuk 1 bulan atau 1 tahun). Namun, pengguna masih harus membeli lisensi penggunaan atau usage license cukup dengan membayar satu kali.

Seiring berkembangnya industri digital, lisensi Royalty-Free semakin diminati oleh pengguna dan juga kontributor (para fotografer atau ilustrator), karena sifatnya yang murah biaya per download-nya, namun harus dibeli dalam jumlah massal (bulk). Maka dari itu, kebanyakan Stock Photo Agency  menjual koleksi Royalty-Free Stock Photo dalam bentuk paket-paket download.

 

2. Standard vs Extended/ Enhanced License

standard license vs enhanced license
shutterstock/Pawle

Standard & Enhanced License ini menjadi satu bagian dari lisensi Royalty-Free. Stock photo Royalty Free baik dengan lisensi Standard License maupun Extended/ Enhanced license memberikan ijin pada pengguna untuk menggunakan konten tanpa batas waktu (perpetual). Perbedaan kedua sub-lisensi ini terletak pada batasan jumlah cetak, impression, komersil dan garansi ganti rugi (indemnification).

Pada umumnya lisensi standard license memberikan ijin untuk menggunakan gambar dengan lisensi tersebut pada semua media komersil dengan coverage di bawah 500.000 copy (cetak) atau 500.000 impressions (views). Maka, jika Anda ingin mencetak brosur ataupun pamflet dibawah 500.000 copy, standard license masih merupakan lisensi yang paling sesuai untuk digunakan. Namun jika gambar atau konten dengan lisensi Royalty Free akan digunakan pada sebuah media yang jumlah cetaknya lebih dari 500.000 (Koran Kompas misalnya) atau impression nya lebih dari 500.000 (seperti pada media Billboard dan out-of-home media lainnya), maka lisensi yang Anda perlukan adalah Enhanced License.

Perbedaan berikutnya terletak pada batasan komersialisme. Standard License Royalty Free memberikan ijin pengguna untuk menggunakan gambar untuk semua keperluan advertising / periklanan, marketing dan promosi. Namun, jika pengguna perlu menggunakan gambar tersebut pada produk atau pada merchandise baik untuk dijual ataupun tidak, pengguna harus menggunakan Enhanced license agar penggunaan  gambar dapat terlindungi.

Ketentuan akan Standard Licensed dan Enhanced / Extended License biasanya tidak jauh berbeda antara satu Stock Photo Agency dengan yang lainnya. Namun, penting bagi pengguna untuk selalu memperhatikan ketentuan ini pada setiap Stock Photo Agency yang dipercayai untuk mendownload gambar, agar penggunaan gambar dapat terlindungi dengan baik. Berikut visual dari ketentuan Standard vs Enhanced License pada situs Shutterstock sebagai contoh:

Standard License vs Enhanced License Shutterstock

 

3. Commercial Royalty-Free vs Editorial

MADRID, SPANYOL – 30 Desember 2015 : Pemain REAL MADRID asal Portugal, CRISTIANO RONALDO, merayakan gol yang dicetaknya pada kompetisi La Liga melawan Real Sociedad di Stadium Santiago Bernabeu. shutterstock/Marcos Mesa Sam Wordley

Aspek lain yang membedakan satu gambar Royalty-Free dengan yang lainnya adalah aspek perbedaan non-komersil dan komersil. Perbedaan ini ditentukan oleh objek pada gambar yang kita temui, di mana ada tidaknya ijin atau release dari objek gambar tersebut akan menentukan apakah gambar tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan komersial atau hanya untuk editorial.

Konten atau gambar yang lisensinya hanya diperuntukan untuk kebutuhan editorial (for editorial use only) hanya dapat digunakan untuk pendukung artikel atau berita saja.

Dasar yang membedakan Commercial dan Editorial terletak pada ada tidak-nya Release atau ijin dari objek atau subjek yang difoto. Apabila pada sebuah karya stock photo terdapat Model atau Talent, maka Photographer dari stock photo tersebut harus memiliki Model Release yang sudah ditanda-tangani oleh si Model, agar gambar tersebut dapat dipakai pengguna untuk tujuan komersil (untuk iklan, promosi dan marketing).

Jika Model Release tidak dimiliki oleh Photographer, gambar tersebut masih dapat dijual sebagai Stock Photo namun Lisensi penggunaannya hanya untuk Editorial, jadi tidak dapat digunakan untuk kepentingan komersil.

Hal yang sama juga berlaku jika pada sebuah karya stock photography terdapat copyrighted property, product ataupun dihasilkan dalam satu kawasan komersil. Fotografer dari karya tersebut harus memiliki Property Release agar stock photo tersebut dapat digunakan oleh pengguna untuk keperluan komersil. Jika foto dihasilkan pada area publik atau jika sebuah bangunan difoto dari area publik, maka property release tidak diperlukan. Namun beberapa gedung memiliki ketentuan tersendiri, seperti yang dirangkum pada Image restriction list Shutterstock.

Namun pada umumnya Photographer sudah menentukan tujuan apakah hasil karya tersebut akan dijual sebagai Royalty-Free (untuk komersil) atau hanya untuk Editorial. Hal tersebut dapat dilihat pada kedua gambar di bawah ini sebagai contoh:

shutterstock/AsiaTravel
Bundaran Hotel Indonesia Skylinie
JAKARTA, INDONESIA – 25 SEPTEMBER 2016: Bayangan dari Gedung perkantoran dan hotel mewah di sekitar Bundaran Hotel Indonesia terpantul pada genangan air mancur Patung Selamat Datang di pusat Jakarta, ibukota Indonesia. shutterstock/AsiaTravel

Kedua gambar di atas dihasilkan oleh fotografer yang sama. Pada gambar pertama, fotografer sudah memastikan bahwa gambar skyline Bundaran Hotel Indonesia tersebut sudah bersih dari logo maupun advertisement, dengan begitu gambar tersebut dapat dijual dengan lisensi Royalty-Free dan dapat digunakan untuk keperluan komersil.

Sedangkan pada gambar kedua, terlihat jelas bahwa fotografer ingin mengabadikan suasana Bundaran HI seorijinal mungkin dan memang jelas ditujukan untuk digunakan sebagai pendamping artikel saja. Sehingga pada gambar tersebut terdapat banyak copyright property seperti: logo dari gedung (BCA, Mandiri, UOB, dan Mandarin Oriental).

Perhatikan juga perbedaan cara mencantumkan attribution pada gambar Royalty-Free dan Editorial. Pada gambar Royalty-Free cukup dicantumkan sumber dan nama fotografer atau bahkan tidak perlu dicantumkan attribusi sama sekali, pada gambar Editorial perlu dicantumkan keseluruhan deskripsi gambar, sumber stock photo, nama fotografer, tanggal dan tempat foto tersebut diambil.

 

4. Single seat vs Multi-seat

multi-seat stock photography indonesia
shutterstock/rawpixel

Lisensi stock-photo selain mengatur tujuan penggunaan juga mengatur bagaimana konten stock-photo tersebut diambil, diproses dan digunakan. Pada paket-paket download yang regular dengan standard-license umumnya akses yang diberikan hanya untuk satu user dan biasa disebut sebagai Single-Seat. Jika akun tersebut digunakan lebih dari satu individu, maka akun tersebut harus membeli paket download dengan akses multi-seat atau multi-user. Contohnya pada Stock photo library Shutterstock, Paket download untuk multi-user ini disebut dengan Team Subscription, sedangkan Paket download untuk single user disebut Professional User. Paket Team Subscription dapat memberikan akses sesuai dengan banyaknya orang yang akan mengakses dari satu akun yang sama.

Umumnya, Paket multi-user tersebut digunakan oleh akun atas nama perusahaan. Di mana biasanya akan ada lebih dari satu designer yang membutuhkan akses dan ijin untuk memproses suatu konten. Seringkali designer tersebut tersebar di beberapa departemen atau bahkan di cabang perusahaan berbeda di lain negara. Para pengawas stock-photo Library biasanya menggunakan IP dan juga metadata tracking untuk menjamin tidak terjadi penyalahgunaan dari jumlah akses yang dimiliki oleh satu akun.

Dengan memiliki pengertian dasar mengenai lisensi Royalty Free di atas, maka sekarang Anda dapat dengan mudah menentukan lisensi mana yang tepat dan paling sesuai dengan keperluan kreatif dari pekerjaan maupun binis Anda. Memiliki lisensi yang tepat dan sesuai dapat melindungi brand dan bisnis Anda dari tuduhan penyalahgunaan seperti plagiarisme, ataupun tuntutan hukum lainnya lain yang dapat merugikan bisnis dan profesi kita dikemudian hari. Selain itu, Anda juga ikut berkontribusi dalam mendukung perkembangan industri kreatif dunia yang dalam jangka panjang juga dapat menguntungkan Anda dengan tersedianya lebih banyak konten-konten yang Anda perlukan.

 

 

Leave a comment