Mari simak tur singkat tentang asal-usul dan sejarah food photography, dan pelajari tren makanan apa yang sedang booming di tahun 2020.

Kita makan terlebih dahulu dengan mata kita, Dengan banyaknya foto makanan yang ada di media digital, majalah, buku resep, hal ini dapat dibenarkan bahwa mata “makan” duluan daripada mulut kita.

Food photography atau fotografi makanan telah ada sejak tahun 1840-an, tapi ketertarikan pada makanan beberapa tahun terakhir dipopulerkan dengan hashtag #foodporn yang bisa kita lihat di budaya media sosial. Di sini kami menjelajahi “perlintasan” food photography dan seperti apa tren food photography berikutnya.

_____________________________________________________________________________________________________________________

Bangkitnya Food Photography

Bagi kebanyakan dari kita, makanan lebih dari sekedar makanan. Itu adalah sebuah bentuk komunikasi. Dan karena kompleksitas dan fleksibilitasnya, hal ini juga berlaku pada gambaran secara visual.

Makanan dan fotografi telah menyatu seperti roti dan selai sejak kamera diperkenalkan. Salah satu foto makanan pertama — foto buah persik dan nanas yang terinspirasi dari still-life painting di zaman itu — diambil pada tahun 1840-an oleh William Henry Fox Talbot, tidak lama setelah deuerreotype pertama dibuka (yang diproses secara layak dengan teknik fotografi dan dikomersilkan).

Maju ke zaman saat munculnya iklan pada pertengahan 1930, makanan menjadi media untuk dijual, tidak hanya untuk seni. Setelah itu, buku resep memperkenalkan technicolor photography untuk masakan rumahan, yang mendorong mereka untuk tidak hanya fokus pada rasa namun juga pada daya tarik visual.

_____________________________________________________________________________________________________________________

Blog Makanan dan Pemasaran Makanan secara Digital

Dengan internet, semakin banyak kemunculan blog makanan dan Instagram yang membuat makanan melejit ke dalam budaya pop. Di dunia makanan saat ini, buku masak lebih seperti buku foto dengan resep, sementara Netflix dan maraknya koki selebriti mendominasi portal berita dan media sosial kita. Mungkin kita sudah mencapai puncaknya, namun 2,1 juta foto yang diunggah ke Instagram hanyalah semata-mata menjadi titik puncak dari dua abad ketertarikan kita terhadap subyek. Susan Bright, penulis dan kurator buku “Feast for the Eyes”, yang mendokumentasikan evolusi dari food photography selama berabad-abad, baru-baru ini menyatakan tentang eksperimentalisme pada food photography “Di sini, makanan ‘menggoda’ pembaca dengan cara yang lain”.

Kami memperkirakan budaya makanan akan terus berada di garis depan pada dekade berikutnya. Jadi apa artinya ini untuk food photography?

Berikut adalah enam tren untuk dieksplorasi ketika menciptakan gambar makanan.

_____________________________________________________________________________________________________________________

 

Tren 1: Ugly Delicious

Kita tahu bagaimana cara untuk terlihat lebih baik, merasa lebih baik, bertindak lebih baik, dan sebagainya. Tidak heran jika kita menginginkan sesuatu yang otentik dan asli.

Untuk makanan, ini diterjemahkan menjadi apa yang ditunjukkan oleh chef David Chang dalam tayangan Netflix-nya, Ugly Delicious. Gambar-gambar dari hidangan yang sudah dimakan setengah bagian, piring makan yang ditumpuk di wastafel, dapur berantakan, remah-remah dan potongan-potongan makanan yang menggambarkan suatu proses, kenikmatan dan kepuasan dalam memasak. Kita memiliki koki rumahan terkenal, ditambah media seperti Bon Appetit — yang telah memiliki followers fanatik dalam memaknai karakter dan realita dapur — untuk berterima kasih atas tren ini. 

_____________________________________________________________________________________________________________________

Tren 2: Cerita yang berwarna

“Ada cerita di balik setiap warna.”

Oranye, pink, hijau, merah. Di tahun 2020, Pantone memilih Classic Blue sebagai “Color of the Year” — yang menurut Laurie Pressman, Vice President dari Pantone Color Institute, “… mengantisipasi apa yang akan terjadi selanjutnya”. Shutterstock memiliki sentimen yang sama dengan koleksi Color Trends for 2020 dan memilih Phantom Blue sebagai warna terbaik untuk digunakan pada industri kreatif.

Era food photography berikutnya berikutnya akan melihat gambar-gambar yang memasukan warna dengan cara yang lebih menarik yang menonjolkan tekstur dalam makanan atau satu elemen dalam sebuah hidangan.

_____________________________________________________________________________________________________________________

 

Tren 3: Props to Props

Props (atau alat peraga) adalah elemen penting dalam food photography. Semakin banyak fotografer bereksperinmen dengan alat peraga yang tidak biasa untuk membuat food images yang abstrak dan high-concept. Tren ini melihat kreatifitas para fotografer dalam menggabungkan sense of play and fun pada gambar-gambar mereka. Makanan adalah hal yang menyenangkan, jadi bersenang-senanglah membuat gambar dengan makanan.

_____________________________________________________________________________________________________________________

 

Tren 4: Makanan itu Futuristik

Dunia menjadi futuristik. Gambar yang kita ambil dari makanan di tahun 2020-an mungkin mencerminkan realitas kita yang terus berubah.

Bisa jadi gambar dengan gaya dokumenter tentang limbah menjadi perhatian atau malah dikemas secara ramah lingkungan dan sustainable. Mungkin bagi kita makanan beku atau frozen food adalah hal yang lumrah, mengurangi sampah, dan meningkatkan self-sufficiency dalam masa yang akan datang dengan ketidakpastian dan kekacauannya sendiri. 

_____________________________________________________________________________________________________________________

 

Tren 5: Makanan yang dibuat oleh rakyat

Mendokumentasikan orang-orang dibalik makanan adalah tren yang segmented, dengan maraknya acara memasak belakangan ini. Iterasi berikutnya adalah menyoroti orang-orang yang biasanya tidak ditampilkan: petani, produsen, pengrajin dan para pekerja keras lainnya. Sean Brock, koki dari South Carolina yang terkenal mengatakan, “Saya ingin orang-orang sangat menghargai bahan-bahan dan menghormati [petani],” tambahnya, “Tidak masalah jika Anda berada di Swedia atau South Carolina.” Buat gambar yang menempatkan ‘real people’ sebagai pusat cerita.

Gambar dengan Sense of Place

Hal ini juga memanfaatkan tren mikro lain dalam makanan: menciptakan gambar dengan sense of place yang kuat. Kebanyakan orang masih terbiasa membeli bahan makanan di supermarket, setidaknya bagi kita, kita paham supermarket bukanlah dari mana makanan itu sendiri berasal.  Menciptakan gambar makanan yang berpatok pada sebuah hidangan atau bahan dengan sense of place hanya akan berkontribusi pada perkembangan kesadaran budaya (cultural awareness) dan apresiasi pada makanan itu sendiri.

“Yang paling personal adalah yang paling kreatif”. Satu dari banyak kutipan berkesan dari peraih Oscar tahun ini — Sutradara Bong Joon Ho ketika ia mengutip kalimat dari Martin Scorcese.

Hal ini berlaku di seluruh industri. Makanan adalah hal yang sangat personal dan subyektif. Sementara kebanyakan yang lainnya tidak terlalu mencerminkan nilai ‘personal’ dari food project itu sendiri, gerakan ini adalah tentang bagaimana mengurangi post-production dan lebih menangkap makanan sehari-hari sebagai sesuatu yang menggiurkan.

_____________________________________________________________________________________________________________________

Tren 6: Terlepas dari tren, makan harus tetap terlihat lezat

Bagaimanapun ketika Anda memotret makanan — apapun tampilannya — tetap harus terlihat lezat. Makanan tidak bisa terlihat sebagai suatu hal yang palsu. Malah, food photography harus memancarkan tampilan yang effortless, karena bagaimanapun, kita makan terlebih dahulu dengan mata kita.

Leave a comment